Gerakan Nasionalisme Ekologis: Dari Lokal ke Nasional
Apa yang telah Kang Dedi mulai, bukanlah langkah kecil yang terhenti di batas administratif Jawa Barat semata. Harapnnya, ini adalah benih yang jika tersemai dengan benar, bisa menjalar ke seluruh penjuru Nusantara. Mengetuk tularkan, merambat liarkan, meresonansikan gelombang frekuensi keteladanan pada semua pemangku kebijakan di Nusantara.
Kita sering mendengar kata dan seruan nasionalisme, terdengar dalam pidato dan slogan di mimbar formal kampanye dan orasi. Tapi Kang Dedi menawarkannya dalam bentuk yang lebih konkret, dengan menjaga tanah dan air, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.
Jika gerakan ini bisa menjelma menjadi kesadaran kolektif, maka Indonesia akan memiliki bentuk nasionalisme baru—nasionalisme ekologis. Cinta tanah air terwujudkan dalam cara manusia memperlakukan tanah dan airnya.
Kebanggaan pada negeri ini bukan hanya soal lagu yang dinyanyikan dan bendera yang dikibarkan, tetapi juga soal bagaimana alamnya tetap lestari. Ini adalah refleksi dari Trisakti konsep perjuangan Bung Karno.
Berdaulat dalam politik, dengan menghapus ketergantungan pada sistem luar yang merusak. Berdikari dalam ekonomi, dengan mengelola sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan. Berkepribadian dalam kebudayaan, dengan melestarikan kearifan lokal sebagai pijakan peradaban.














