Etika Spiritual di Era Kecerdasan Buatan

Etika Spiritual di Era Kecerdasan Buatan

Di sebuah sudut kampung adat Sunda, asap kemenyan naik perlahan, menyatu dengan udara pagi yang basah. Doa tidak dibaca tergesa-gesa; ia diucap dengan jeda, dengan tubuh yang hadir sepenuhnya. Pemandangan ini terasa kontras dengan realitas hari ini, ketika kecerdasan buatan mampu “memahami” teks agama, menyarikan tafsir, bahkan menjawab pertanyaan iman dalam hitungan detik. Mesin membaca kitab, namun siapa yang beriman?

Bebelentukan: Permainan Rakyat dari Cimahi yang Wajib Dikenal!

Bebelentukan: Permainan Rakyat dari Cimahi yang Wajib Dikenal!

kita bisa menghidupkannya kembali. Salah satunya, masukkan helaran Bebelentukan ke acara seperti Hari Jadi Cimahi. Bayangkan barong kodok gede muterin kota, pasti bikin orang penasaran!

“Helaran ini bisa jadi daya tarik wisata, bikin Cimahi makin dikenal,” kata Hermana penuh harap.

Sekolah, seperti SD Cibabat Mandiri, juga bisa mengajarkan Bebelentukan sebagai kegiatan ekstrakurikuler biar anak-anak kenal budaya lokal.

Julang Ngapak: Pengetahuan dan Teknologi Tradisional Arsitektur Sunda

Julang Ngapak: Pengetahuan dan Teknologi Tradisional Arsitektur Sunda

Pelestarian rumah Julang Ngapak harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek Pengetahuan dan Teknologi Tradisional. Dengan memadukan warisan budaya dengan inovasi modern, rumah adat ini dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian: Pilar Pemajuan Budaya

Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian: Pilar Pemajuan Budaya

Dewan Kebudayaan ataupun Dewan Kesenian menjadi krusial—bukan sebagai penghasil karya seni, tetapi sebagai arsitek kebijakan dan penggerak sistem yang memastikan kebudayaan tetap lestari, berkembang, dan berdaya saing.

Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian adalah wadah untuk para pemikir, konseptor, dan legislator dalam dunia kebudayaan. Ia tidak mencipta seni, tetapi mencipta kebijakan yang memungkinkan seni berkembang.

Mereka bukan panggung pertunjukan, tetapi tangan yang membangun panggung itu agar para seniman dan komunitas budaya dapat berkarya dengan dukungan yang layak.

Dewan Kebudayaan atau Dewan Kesenian, bukanlah tangan yang menggambar, bukan suara yang menyanyi, bukan kaki yang menari.

Ia adalah roh yang memastikan semua itu dapat terjadi dengan sistem yang matang. Ia adalah penggerak, bukan pencipta—tetapi tanpanya, penciptaan bisa kehilangan arah dan keberlanjutan.

Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral

Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral

Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

banner 728x90
Optimized by Optimole