Harmoni Agama dan Teknologi

Refleksi Interfaith tentang Kecerdasan Buatan dari Perspektif Nilai Lokal Indonesia

Harmoni Agama dan Teknologi
Harmoni Agama dan Teknologi

SinergiNews – OPINI. Ketika Iman Memasuki Ruang Digital. Era digital telah menggeser lanskap kehidupan beragama secara perlahan namun pasti. Kitab suci kini hadir dalam genggaman layar; doa dapat dipandu suara sintetis; meditasi berlangsung melalui aplikasi yang menjanjikan ketenangan dalam hitungan menit. Kecerdasan buatan menawarkan kemudahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dari membantu tafsir teks keagamaan hingga mensimulasikan praktik kontemplatif. Di satu sisi, teknologi membuka akses luas bagi pembelajaran spiritual. Di sisi lain, keberadaanya mengguncang fondasi otoritas keagamaan yang selama ini bertumpu pada relasi manusia, tradisi, dan laku hidup.

Pertanyaannya bukan apakah AI berguna, melainkan apakah mampu menggeser pusat makna. Ketika algoritma mulai dianggap โ€œlebih objektifโ€ daripada guru, pendeta, bhiksu, atau tokoh adat, kita menghadapi krisis kepercayaan yang halus namun serius. Otoritas spiritual tidak runtuh oleh serangan frontal, melainkan tergerus oleh kenyamanan instan. Iman dipadatkan menjadi fitur; kebijaksanaan diringkas menjadi notifikasi.

Indonesia, dengan keragaman iman dan tradisi, memiliki modal etis yang kuat untuk menanggapi tantangan ini. Dialog lintas agama bukan menjadi wacana elitis, melainkan kebutuhan akar rumput. Di tengah percepatan teknologi, agama-agama di Nusantara dipanggil untuk duduk bersama, menyepakati batas, merawat makna, dan memastikan AI tetap menjadi pelayan, bukan penentu jalan rohani manusia.

Perspektif Lintas Agama di Indonesia

Islam memandang inovasi teknologi melalui lensa tauhid dan maslahah. Tauhid menjaga agar pusat penghambaan tetap pada Tuhan Yang Esa; maslahah memastikan setiap inovasi membawa kemanfaatan nyata bagi manusia. AI dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, pelayanan sosial, dan pemahaman teks, selama tidak menggantikan peran akal, nurani, dan tanggung jawab moral. Ketika teknologi mulai menentukan benar-salah tanpa hikmah, di situlah garis tauhid diuji.

Dalam Kristen, martabat manusia sebagai gambar Tuhan (imago Dei) menjadi landasan etik utama. Relasi pribadi dengan Tuhan tidak dapat disubstitusi oleh mesin, secerdas apa pun. AI boleh membantu administrasi gerejawi atau pendidikan iman, tetapi pengalaman rohani tetap bersumber dari perjumpaan, doa, kasih, dan pengorbanan. Ketika relasi direduksi menjadi interaksi digital, iman kehilangan kehangatan manusiawinya.

Hindu menempatkan dharma dan karma sebagai poros keseimbangan. Teknologi dinilai dari dampaknya terhadap harmoni kosmik: manusia, alam, dan semesta. AI yang mendorong efisiensi tanpa kepedulian ekologis atau sosial bertentangan dengan dharma. Inovasi sejati adalah yang menjaga keseimbangan, bukan hanya mempercepat proses.

Dalam Buddha, kesadaran dan welas asih menjadi jalan pembebasan. AI dapat membantu latihan mindfulness, mengingatkan jeda, atau menyediakan panduan meditasi. Namun, ketergantungan pada aplikasi berisiko melemahkan kesadaran sejati. Mesin tidak mengalami penderitaan; welas asih tetap lahir dari hati manusia yang terlatih.

Sementara itu, kepercayaan adat Sunda seperti Sunda Wiwitan menegaskan nilai leluhur, ruang sakral, dan wates (batas). Ada wilayah yang tidak untuk dieksploitasi, baik hutan, situs adat, maupun makna spiritual. Teknologi dihormati sebagai alat, bukan penguasa. Kearifan ini mengajarkan pembatasan sebagai bentuk kebijaksanaan, bukan ketakutan.

Tantangan Bersama: Di Antara Bias dan Komodifikasi

Tantangan AI bersifat lintas iman. Pertama, bias algoritma berpotensi mereproduksi ketidakadilan, termasuk dalam representasi ajaran dan praktik keagamaan. Kedua, autentisitas ritual terancam ketika pengalaman spiritual diproduksi massal dan seragam. Ketiga, spiritualitas mudah dikomodifikasi, doa berlangganan, meditasi berbayar, kebijaksanaan dijual per klik.

Risiko lainnya adalah pengikisan tanggung jawab. Keputusan etis yang diserahkan pada mesin menciptakan jarak antara tindakan dan pertanggungjawaban. Dalam jangka panjang, iman berisiko menjadi konsumsi pasif, nyaman, cepat, namun kehilangan daya transformasi.

Solusi Grassroots: Menetapkan Batas Etis Berbasis Nilai Lokal

Solusi tidak cukup datang dari regulasi formal. Diperlukan gerakan akar rumput yang mempraktikkan dialog antaragama secara rutin dan setara. Forum lintas iman dapat menyepakati โ€œbatas etisโ€ AI: apa yang boleh dibantu, apa yang tidak boleh digantikan. Nilai lokal Nusantara, seperti gotong royong, keseimbangan, dan penghormatan pada yang sakral, menjadi pijakan bersama.

Pendidikan digital berbasis komunitas penting untuk meningkatkan literasi etika, bukan terbatas pada keterampilan teknis. Tokoh agama dan adat perlu dilibatkan sebagai penjaga makna, bukan penonton teknologi. Dengan demikian, inovasi berjalan seiring kebijaksanaan.

Alat yang Tunduk pada Nilai

Kecerdasan buatan adalah alat, bukan pengganti iman, bukan hakim moral, bukan guru rohani. Agama tetap penjaga nilai utama, penuntun arah di tengah arus digital. Harmoni agama dan teknologi hanya mungkin tercapai ketika dialog lintas iman berakar pada kearifan lokal dan keberanian menetapkan batas. Di sanalah AI menemukan tempatnya, membantu manusia, tanpa mencuri makna kemanusiaan itu sendiri.***



Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.

Editor: Fitri Kurniawati

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

banner 728x90
Optimized by Optimole