Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral

Pelajaran dari Situs Karangkamulyan untuk Generasi yang Menghadapi Ketidakpastian Masa Depan

Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral
Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral

SinergiNews – OPINI. Di Karangkamulyan, waktu tidak runtuh, masa mengendap. Batu-batu tua terbaring tenang, tidak meminta diingat, apalagi dipuja. Namun justru dari reruntuhan itulah ingatan kolektif bekerja. Situs ini bukan museum yang sibuk menjelaskan dirinya sendiri; ia ruang sunyi yang menguji kesabaran generasi yang datang membawa pertanyaan, kegelisahan, dan harapan.

Karangkamulyan sering dibaca sebagai sisa-sisa kejayaan masa lalu. Padahal, bagi masyarakat sekitarnya, ini adalah penanda batas. Batas antara kuasa dan kebijaksanaan. Batas antara ambisi dan kepantasan. Batas antara apa yang bisa dilakukan dan apa yang seharusnya ditahan. Di tengah ketidakpastian masa depan, ketika perubahan bergerak lebih cepat dari kemampuan manusia untuk merenung, pelajaran ini terasa semakin mendesak.


Reruntuhan sebagai Bahasa Etika

Reruntuhan Karangkamulyan tidak berbicara tentang kemenangan. Situs ini tidak memamerkan kemegahan arsitektur atau teknologi canggih pada zamannya. Yang tersisa justru fragmen, batu, tanah, dan ruang kosong. Kekosongan ini bukan kekurangan, melainkan pesan: tidak semua warisan harus utuh untuk bermakna.

Dalam tradisi Sunda, reruntuhan diperlakukan dengan hormat. Ia tidak dipugar berlebihan, tidak diromantisasi secara agresif. Ada kesadaran bahwa masa lalu tidak untuk dikuasai, melainkan untuk dipelajari. Sikap ini melahirkan etika penting: manusia tidak selalu lebih bijak dari sejarahnya sendiri.

Di zaman yang gemar menghapus jejak lama demi efisiensi baru, Karangkamulyan berdiri sebagai peringatan. Setiap peradaban yang melampaui batasnya akan meninggalkan sisa, dan sisa itu akan berbicara lebih jujur daripada catatan kemenangan.

Ritus dan Imajinasi Kolektif

Karangkamulyan hidup bukan hanya karena batu-batunya, tetapi karena ritus yang mengitarinya. Ziarah, doa, dan cerita lisan menjaga situs ini tetap bernapas. Ritus bukan nostalgia; kegiatan ini adalah cara komunitas menyepakati makna bersama. Melalui ritus, imajinasi kolektif dirawat, tentang kepemimpinan yang adil, kekuasaan yang tahu diri, dan pengetahuan yang tidak serakah.

Imajinasi kolektif inilah yang sering luput dalam perbincangan masa depan. Kita terlalu sibuk menghitung kemungkinan, hingga lupa membangun kesepakatan moral. Padahal, teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan imajinasi etis yang dibangun bersama.

Karangkamulyan mengajarkan bahwa masa depan tidak hanya dirancang, tetapi juga dibatasi. Ritus menjaga batas itu tetap hidup, tanpa perlu aturan tertulis yang kaku.

Ketidakpastian Masa Depan dan Kebutuhan Akan Batas

Generasi hari ini hidup dalam ketidakpastian berlapis: krisis iklim, disrupsi ekonomi, dan lompatan teknologi yang mengaburkan definisi manusia itu sendiri. Masa depan terasa seperti wilayah tanpa peta. Dalam situasi seperti ini, godaan terbesar adalah mempercepat segalanya, mencari kendali melalui sistem yang semakin otonom, semakin โ€œpintarโ€.

Namun sejarah mengajarkan ironi pahit: semakin besar kuasa, semakin besar risiko kehilangan arah. Karangkamulyan, sebagai situs yang menyimpan ingatan tentang runtuhnya tatanan lama, mengingatkan bahwa ketidakpastian bukan alasan untuk menanggalkan etika.

Nilai lokal berfungsi sebagai jangkar. Ia tidak menjanjikan kepastian, tetapi menawarkan kebijaksanaan untuk bertahan tanpa kehilangan kemanusiaan. Dalam bahasa leluhur, ada wates yang tidak boleh dilewati, bukan karena takut gagal, melainkan karena ingin tetap utuh.

Perspektif Global South: Kebijaksanaan dari Pinggiran

Dalam percakapan global tentang masa depan, suara Global South sering diposisikan sebagai penerima dampak, bukan pemberi arah. Padahal, situs seperti Karangkamulyan menyimpan etika yang justru dibutuhkan dunia: etika pembatasan, kesabaran, dan tanggung jawab lintas generasi.

Ketika pusat-pusat kekuatan dunia berlomba menciptakan sistem yang semakin menentukan hidup manusia, nilai lokal dari Selatan Global menawarkan pertanyaan sederhana namun tajam: siapa yang menjaga batasnya? Siapa yang menanggung akibatnya? Dan siapa yang berani berkata โ€œcukupโ€?

Humor tipis boleh diselipkan: dunia modern sibuk meramal masa depan, sementara leluhur sibuk mengingatkan agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Yang satu penuh simulasi, yang lain penuh peringatan, dan sering kali yang terakhir lebih akurat.

Karangkamulyan sebagai Penjaga Moral

Karangkamulyan tidak memberi manual menghadapi masa depan. ISitus ini memberi sesuatu yang lebih penting: kepekaan. Kepekaan untuk membaca tanda, merasakan keganjilan, dan menahan diri ketika arah terasa keliru. Situs ini mengajarkan bahwa moralitas tidak selalu hadir dalam bentuk aturan eksplisit; kadang hidup dalam rasa yang diwariskan.

Nilai lokal, jika dirawat, menjadi penjaga batas moral yang lentur namun tegas. Keberadaanya tidak menghambat gerak, tetapi mencegah jatuh terlalu jauh. Dalam menghadapi risiko eksistensial yang sulit dipetakan, penjaga semacam ini menjadi krusial.

Merawat Batas di Tengah Ketidakpastian

Karangkamulyan berdiri diam, tetapi pesannya bergerak jauh. Batu itu mengingatkan generasi hari ini bahwa masa depan tidak hanya soal apa yang bisa kita ciptakan, tetapi juga apa yang berani kita batasi. Ketidakpastian bukan musuh; tapi ujian kedewasaan.

Nilai lokal Sunda, yang terpatri dalam reruntuhan, ritus, dan imajinasi kolektif, menawarkan fondasi etis bagi generasi yang menghadapi masa depan tanpa kepastian. Di tengah arus besar perubahan, menjaga batas moral bukan sikap mundur. Gerakan ini adalah langkah paling maju yang bisa diambil manusia.

Karena pada akhirnya, peradaban tidak runtuh karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena kehilangan kebijaksanaan untuk tahu kapan harus berhenti. Dan Karangkamulyan, dengan kesunyiannya, telah lama menjaga pesan itu, menunggu siapa pun yang masih mau mendengarkan.***

——-

Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.

Editor: Fitri Kurniawati

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

banner 728x90
Optimized by Optimole