Di sebuah sudut kampung adat Sunda, asap kemenyan naik perlahan, menyatu dengan udara pagi yang basah. Doa tidak dibaca tergesa-gesa; ia diucap dengan jeda, dengan tubuh yang hadir sepenuhnya. Pemandangan ini terasa kontras dengan realitas hari ini, ketika kecerdasan buatan mampu “memahami” teks agama, menyarikan tafsir, bahkan menjawab pertanyaan iman dalam hitungan detik. Mesin membaca kitab, namun siapa yang beriman?

