SinergiNews – Cimahi. Selasa siang itu, Aula Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) tidak lagi terasa seperti ruang kuliah biasa. Suasana hangat langsung menyergap begitu anak-anak kecil dari Sanggar Rumah Kreatif Bunda Mei (RKBM) naik ke panggung. Dengan kostum cerah, mereka menari Merak penuh semangat. Gerakan Rara, Huma, Zia, Qiran, Azalika, dan Najwa, semua masih duduk di bangku SD, begitu ekspresif, seolah tubuh kecil mereka sedang berbicara langsung dengan jiwa penonton.
Itulah pembuka Workshop “Harmoni Tubuh dan Jiwa Disabilitas: Seni Pertunjukan Teater dan Permainan Rakyat” yang digelar 15 April 2026 pukul 13.00 WIB. Acara ini bukan hanya sebatas workshop biasa. Ini ruang kolaborasi nyata antara seni pertunjukan, psikologi, dan art therapy untuk memperjuangkan inklusivitas bagi anak-anak, termasuk yang berhadapan dengan disabilitas.
Diselenggarakan oleh Sanggar Rumah Kreatif Bunda Mei dengan tagline “Bukan Sekedar Sanggar Biasa, Art Therapy”, kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Peserta datang dari berbagai perwakilan sekolah RA/TK, SD, SMP, yayasan sosial, dan komunitas Rumah Kreatif Bunda Mei se-Kota Cimahi. Setelah tarian pembuka, semua berdiri khidmat menyanyikan Indonesia Raya. Suara mereka menyatu, mengingatkan bahwa seni dan keberagaman bisa jadi kekuatan pemersatu.





















