Bunda Mei Suprihartini, S.T., CHA, CCMHC, CH, berbicara dengan penuh keyakinan. Baginya, seni adalah jembatan untuk menyeimbangkan jiwa, menumbuhkan cinta, dan memulihkan emosi, terutama bagi anak disabilitas. Pendekatan art therapy yang humanis, katanya, bisa menjadi obat yang lembut tapi kuat.

Endah Andriani Pratiwi M.Psi. menambahkan perspektif psikologi yang tajam. Menurutnya, berkesenian adalah cara paling efektif untuk mengatur emosi anak, terutama yang sering mengalami tantrum. Seni memberi ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan diri, berkomunikasi, dan akhirnya pulih secara psikologis.

Workshop ditutup dengan penampilan yang tak kalah menyentuh. Penyanyi cilik Callasia menyanyikan lagu “Gemar Membaca” ciptaan Bunda Mei, diikuti Tari Campeureunik yang dibawakan Rachel, Camel, dan Mesya dari Sanggar Tari RKBM. Semua penampilan itu seperti pesan hidup: seni bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk menyembuhkan dan memberdayakan.
Acara ini meninggalkan harapan besar. Kolaborasi antara seni, psikologi, dan komunitas seperti ini bisa menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Seni bukan hanya hiburan, ini adalah alat transformasi sosial yang paling manusiawi. Di Cimahi hari itu, tubuh dan jiwa benar-benar berdansa bersama, membuktikan bahwa inklusi bukan sekadar slogan, tapi sesuatu yang bisa kita bangun nyata, hari demi hari.***
Jurnalis: Dadan Kurnia
























