Bandung, 17 Mei 2026 – “Segenap ilmu yang kita peroleh dari pelatihan dan pewarisan ini, sebarkanlah. Sebab budaya yang tidak diwariskan akan mati.” Kalimat penutup dari modul pelatihan itu benar-benar hidup di sela-sela kegiatan yang digagas oleh Dadan Kurnia sebagai Ketua Panitia.
Kegiatan “Revitalisasi dan Pewarisan Pengetahuan Tradisional Sunda kepada Generasi Muda melalui Pelatihan Pengolahan Resep Rempah secara Inovatif” sukses digelar pada Minggu, 17 Mei 2026, dari pukul 10.00 s.d. 16.00 WIB di SMKN 4 Bandung. Kegiatan yang menggandeng banyak pihak, diantaranya Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMKN 4 Bandung, OSIS, EtnoSains Nusantara, LSM KOMPAS, Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu serta Minum Rempah Indonesia (MRI).
Kegiatan ini mendapatkan sambutan positif dari pihak sekolah serta didukung penuh oleh program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat, Kementerian Kebudayaan RI.

Antusiasme Peserta Lintas Generasi
Antusiasme luar biasa ditunjukkan oleh lebih kurang 50 peserta yang hadir dalam pelatihan. Tercatat dalam daftar hadir terdiri dari 23 alumni dan 27 siswa aktif SMKN 4 Bandung. Mereka dengan penuh semangat mengikuti sesi demi sesi, dari praktik meramu dan meracik rempah hingga menyegel kemasan menggunakan tea bag.






Salah satu peserta, seorang siswi SMKN 4, mengaku baru pertama kali mengetahui bahwa berbagai rempah di hadapannya memiliki banyak manfaat. “Keren bangat, jadi pengen bikin konten. Saya baru pertama kali minum minuman rempah buatan sendiri. Apalagi kami diajari bikin tea bag sendiri, gampang ternyata,” ujarnya bersemangat.
Para peserta juga mendapatkan cinderamata berupa apron yang digunakan selama praktik dan modul pelatihan lengkap yang bisa dibawa pulang.
Dadan Kurnia: Gerakan Menyadarkan dari Dapur Tradisional
Dadan Kurnia, dalam laporannya, menyampaikan kegelisahannya terhadap minimnya program pewarisan pengetahuan tradisional.
“Banyak pengetahuan dan teknologi tradisional perlahan tapi pasti akan hilang karena terlupakan. Tidak ada generasi penerus yang merawatnya. Melalui pelatihan ini, kami ingin membuktikan bahwa generasi muda justru sangat antusias jika diberikan pendekatan yang kreatif,” ujar Dadan.

Ia menambahkan, “Ini bukan hanya pelatihan meracik rempah biasa. Ini adalah gerakan menyadarkan bahwa dari dapur tradisional lahir pengetahuan, ketahanan, kesehatan, hingga peradaban. Kewirausahaan berbasis budaya bisa melahirkan kemandirian.”












Keberhasilan kegiatan ini diukur dari target capaian yang melampaui harapan, dari mulai jumlah peserta hadir hingga akhir, lebih dari 80% mampu mempraktikkan pembuatan rempah celup dan setiap peserta menghasilkan minimal satu resep inovatif.
Kepala SMKN 4 Bandung: Sangat Relevan dengan Kewirausahaan SMK
Kepala SMKN 4 Bandung, Yudi Kartiwa, S.Pd., S.ST., M.Pd. , dalam sambutannya menyatakan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kurikulum SMK yang mengutamakan kewirausahaan.
“Kegiatan ini bagus sekali. SMK itu setelah lulus memang diarahkan untuk bekerja, berwirausaha, dan terakhir melanjutkan kuliah. Tidak ada pelatihan yang tidak bermanfaat, termasuk pelatihan rempah ini,” tegasnya.

Yudi menambahkan bahwa kesadaran akan rendahnya minat wirausaha di kalangan lulusan SMK menjadi perhatian serius. “Kegiatan ini sangat membantu dalam melakukan pembekalan untuk keahlian di masa yang akan datang.” Pihaknya menekankan akan selalu mendukung kegiatan positif IKA SMKN 4 Bandung melalui fasilitasi yang ada di sekolah.
Kolaborasi IKA, OSIS, dan EtnoSains Nusantara
Ketua IKA SMKN 4 Bandung sekaligus pendiri EtnoSains Nusantara, Fajar Budhi Wibowo, M.Si., M.Hum. , menegaskan pentingnya kontribusi alumni dalam pemajuan kebudayaan.

“Kebudayaan Sunda sudah semestinya hadir di lingkungan sekolah dan keluarga secara konsisten. Kegiatan ini adalah bentuk nyata kontribusi alumni yang manfaatnya dapat dirasakan langsung serta memiliki dampak positif bagi kita semua dalam membangun pribadi yang berbudaya. Ini masuk pada program IKA,” tandasnya.

Selama satu hari penuh, peserta tidak hanya menerima materi etnopedagogi dan etnofarmakologi, tetapi juga langsung mempraktikkan pengolahan berbagai jenis rempah khas Sunda seperti jahe merah, kencur, temulawak, hingga bunga telang menjadi produk herbal siap jual. Setiap peserta berhasil menciptakan minimal satu resep racikan tea bag inovatif.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Pengetahuan Tradisional, sebagaimana diamanatkan UU No. 5 Tahun 2017, dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan vokasi dan inovasi pasar.***
Jurnalis: Fitri Kurniawati
































