Batas Sakral Manusia dan Kecerdasan Buatan

Pelajaran Etika dari Kearifan Leluhur Sunda di Ambang Transformasi Digital

Berbagai tradisi iman di Nusantara, meski berbeda bahasa teologis, bertemu pada satu simpul, yaitu penolakan terhadap upaya menggantikan peran Tuhan dan mereduksi martabat manusia.
Berbagai tradisi iman di Nusantara, meski berbeda bahasa teologis, bertemu pada satu simpul, yaitu penolakan terhadap upaya menggantikan peran Tuhan dan mereduksi martabat manusia.

SinergiNews – OPINI. Kecerdasan buatan kini tidak lagi berdiri di ruang laboratorium atau lembar jurnal ilmiah. Teknologi ini telah turun ke meja makan, ruang kelas, bahkan ke bilik batin manusia. Chatbot menjawab pertanyaan hukum, kesehatan, hingga perkara iman, dari tafsir ayat suci sampai nasihat moral. Pada titik tertentu, kita tidak sekadar bertanya apa yang bisa dilakukan mesin, melainkan apa yang seharusnya tidak disentuhnya. Di sinilah persoalan etika mengeras: batas sakral antara manusia, teknologi, dan yang Ilahi mulai kabur.

AI bekerja dengan kecepatan dan presisi, namun tidak mengalami sunyi. Mesin mampu merangkai kata tentang doa, tetapi tidak pernah berlutut. Bisa meniru suara kebijaksanaan, tetapi tak memiliki beban tanggung jawab moral. Ketika teknologi menyusup ke wilayah makna, yaitu iman, nilai, dan laku hidup. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi efisiensi, melainkan kelayakan.

Masyarakat Sunda sejak lama mengenal garis batas yang tak boleh dilampaui. Ada ruang keramat yang dijaga, ada waktu sunyi yang dihormati, ada takdir yang diterima dengan kesadaran. Kearifan ini bukan romantisme masa lalu, melainkan perangkat etik yang relevan untuk menilai transformasi digital hari ini. Di tengah gegap gempita AI, leluhur seakan berbisik “tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan“.

Kearifan Leluhur Sunda sebagai Fondasi Etika

Dalam kosmologi Sunda, hidup tidak dipahami sebagai proyek penaklukan, melainkan perjalanan keseimbangan. “Aki Balangantrang” figur kebijaksanaan yang kerap dirujuk dalam cerita tradisi lisan, mengajarkan tentang wates (batas). Batas bukan larangan membeku, melainkan penanda agar manusia tidak tersesat oleh kesombongannya sendiri. Ada wilayah usaha, ada wilayah pasrah. Ada yang boleh diolah, ada yang harus dijaga.

Konsep takdir dalam pemahaman Sunda bukan fatalisme. Takdir adalah pengakuan bahwa manusia berikhtiar dalam lingkaran kosmik yang lebih luas. Kesadaran ini melahirkan sikap rendah hati, teknologi adalah alat, bukan penentu makna. Di sini, AI ditempatkan sebagai panyadia (penyedia), bukan pangatur (pengatur) hidup.

Leluhur juga mengenal sunyi, bukan kekosongan, melainkan ruang refleksi. Kampung Mahmud, misalnya, menata ruang hidup dengan kesadaran spiritual (ada batas bangunan, aturan kesederhanaan, dan larangan tertentu yang menjaga ketenangan batin). Sunyi adalah jeda agar manusia mendengar nurani. AI, yang bekerja tanpa jeda batin, berpotensi menggerus sunyi itu jika dibiarkan menguasai ritme hidup.

Ruang keramat (leuweung larangan, situs adat) dijaga bukan karena ketakutan, melainkan penghormatan. Kearifan ini mengajarkan bahwa tidak semua ruang harus dieksploitasi. Dalam bahasa modern: tidak semua data harus dipanen, tidak semua fungsi harus diotomatisasi. Leluhur telah lebih dulu menulis etika pembatasan, tanpa server, tanpa algoritma.

Perspektif Agama Nusantara yang Menjaga Martabat, Menolak Penggantian

Berbagai tradisi iman di Nusantara, meski berbeda bahasa teologis, bertemu pada satu simpul, yaitu penolakan terhadap upaya menggantikan peran Tuhan dan mereduksi martabat manusia.

Dalam Islam, tauhid menegaskan keesaan Tuhan dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah. Teknologi dipersilakan berkembang sejauh ia membantu amanah kemanusiaan. Ketika AI mulai diposisikan sebagai sumber kebenaran final (apalagi dalam perkara iman) di situlah garis tauhid terlanggar. Mesin boleh membantu memahami teks, namun makna hidup tidak diserahkan pada statistik.

Tradisi Kristen menekankan martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Setiap pribadi memiliki nilai intrinsik yang tidak dapat direplikasi. AI yang meniru empati atau kebijaksanaan tetaplah simulasi. Ketika keputusan moral diserahkan pada mesin, risiko dehumanisasi mengintai. Gereja, dalam banyak refleksinya, mengingatkan: teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya.

Dalam Hindu, dharma menjadi poros harmoni kosmik. Segala tindakan dinilai dari keselarasan dengan alam dan tatanan semesta. AI yang melampaui batas, menggerus kesadaran, memicu ketamakan data, atau merusak relasi manusia-alam, bertentangan dengan dharma. Kemajuan tanpa harmoni adalah kemajuan yang timpang.

Ajaran Buddha menempatkan kesadaran (mindfulness) dan non-attachment sebagai jalan pembebasan. Ketergantungan berlebihan pada AI berisiko memperkuat keterikatan baru, pada kenyamanan instan, pada jawaban cepat, pada ilusi kepastian. Mesin tidak bisa bermeditasi; kesadaran tetap kerja batin manusia.

Kepercayaan adat Sunda Wiwitan memandang alam, manusia, dan leluhur dalam jejaring relasional. Penciptaan bukan kompetisi, melainkan perawatan. Upaya “menciptakan” kecerdasan yang menyaingi manusia dipandang sebagai langkah yang melampaui wates. Semua tradisi ini, dengan caranya masing-masing, sepakat, teknologi yang mencoba menggantikan peran Tuhan atau mengosongkan makna manusia patut ditolak.

Implikasi Kontemporer sebagai Alat Bantu, Bukan Penentu Makna

Di dunia nyata, AI menawarkan manfaat konkret. Terjemahan teks suci menjadi lebih cepat, akses pengetahuan meluas, dan pendidikan terbantu. Ini bukan perkara hitam-putih. Menolak AI secara total sama kelirunya dengan memujanya tanpa kritik. Yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan pembatasan.

AI boleh menjadi alat bantu studi agama, namun tidak menjadi otoritas spiritual. Ia dapat menyajikan ragam tafsir, tetapi keputusan iman tetap lahir dari dialog manusia, dengan teks, tradisi, dan batin. Tanpa batas, spiritualitas berisiko menjadi komoditas digital: cepat, dangkal, dan kehilangan keheningan.

Dalam konteks lokal, nilai Sunda menawarkan kompas praktis. Pertama, hormati sunyi, menciptakan ruang tanpa mesin untuk refleksi. Kedua, jaga wates, yaitu tetapkan area yang tidak diautomasi, terutama keputusan etis dan spiritual. Ketiga, rawat tanggung jawab, dengan siapa pun yang mengembangkan dan menggunakan AI harus siap menanggung dampaknya, bukan berlindung di balik algoritma.

Mesin mungkin bisa menjawab “apa itu doa”, tapi tak pernah lupa password, sementara manusia lupa makna. Candaan ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukan kecepatan saja, melainkan kebijaksanaan memilih kapan berhenti.

Dialog Lintas Iman untuk Etika Berbasis Lokal

Di ambang transformasi digital, pertanyaan terpenting bukan “sejauh apa AI bisa melangkah”, melainkan “di mana kita berhenti”. Jawabannya tidak lahir dari satu tradisi, melainkan dari dialog lintas iman yang jujur dan berakar pada nilai lokal. Kearifan Sunda, bersama tradisi agama Nusantara, menawarkan bahasa etik yang kaya untuk merawat batas sakral.

Dialog ini mendesak, bukan untuk menghambat inovasi, melainkan memastikan kemajuan tetap manusiawi. AI yang beretika bukan sekadar patuh regulasi, tetapi tunduk pada kebijaksanaan kolektif. Kita memerlukan keberanian untuk berkata: cukup, di sini batasnya.

Leluhur telah memberi peta, bahwa agama memberi kompas, teknologi menyediakan kendaraan. Tanpa peta dan kompas, kendaraan secanggih apa pun akan tersesat. Masa depan digital yang beradab menuntut kita berjalan dengan kesadaran, menghormati sunyi, menjaga wates, dan merawat martabat manusia. Di sanalah kemajuan menemukan maknanya.***



Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.

Editor: Fitri Kurniawati

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

banner 728x90
Optimized by Optimole