Harmoni Manusia dan Teknologi Tradisional

Julang Ngapak sebagai Model Etika Berkelanjutan di Tengah Revolusi Baru

Arsitektur ini adalah teknologi hidup, dirancang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk hidup berdampingan dengannya.
Arsitektur ini adalah teknologi hidup, dirancang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk hidup berdampingan dengannya.

SinergiNews – OPINI. Di tanah Sunda, teknologi tidak selalu datang dengan bunyi mesin atau kilau logam. Teknologi kadang hadir dalam bentuk rumah panggung yang sederhana, atap yang mengembang seperti burung mengepakkan sayap, dan kayu yang disusun dengan penuh perhitungan rasa. Julang Ngapak, arsitektur tradisional Sunda, bukan hanya gaya bangunan. Arsitektur ini adalah teknologi hidup, dirancang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk hidup berdampingan dengannya.

Di tengah arus revolusi baru yang menjanjikan percepatan, otomatisasi, dan kecerdasan yang melampaui manusia, Julang Ngapak berdiri sebagai pengingat sunyi: inovasi sejati tidak selalu berarti semakin rumit. Kadang, keberadaannya justru semakin tahu batas.

Julang Ngapak Adalah Teknologi yang Tumbuh dari Etika

Julang Ngapak dikenal dengan atapnya yang melebar ke kiri dan kanan, menyerupai sayap burung yang tengah mengembang. Bentuk ini bukan estetika kosong. Lahir dari pembacaan mendalam terhadap iklim, arah angin, dan curah hujan. Atap yang lebar melindungi dinding dari hujan, sementara struktur panggung menjaga rumah dari lembap tanah dan banjir.

Ini adalah teknologi, namun teknologi yang berangkat dari kerendahan hati. Rumah tidak memaksa alam menyesuaikan diri, tetapi sebaliknya, hunian yang menyesuaikan diri dengan alam. Tidak ada beton yang memenjarakan tanah, tidak ada desain yang menolak aliran air. Semua bekerja dalam logika harmoni.

Lebih dari itu, Julang Ngapak dibangun dengan kesadaran sosial. Ukuran rumah tidak dibuat untuk pamer. Ketinggian, bentuk, dan orientasinya menjaga kesetaraan antartetangga. Arsitektur menjadi etika yang membeku dalam kayu dan ijuk. Di sini, teknologi tidak netral; lebih berpihak pada keseimbangan.

Inovasi Lokal dan Prinsip โ€œCukupโ€

Leluhur Sunda tidak kekurangan akal. Mereka bisa saja membangun lebih besar, lebih tinggi, lebih megah. Namun mereka memilih cukup. Prinsip ini terasa asing di zaman modern yang menganggap โ€œlebihโ€ sebagai tujuan. Julang Ngapak mengajarkan bahwa kecukupan adalah bentuk kecerdasan, kecerdasan ekologis, sosial, dan spiritual.

Teknologi tradisional ini bekerja lama, tahan waktu, dan mudah diperbaiki. Tidak bergantung pada sistem yang jauh dari jangkauan komunitas. Ketika rusak, ia tidak memanggil pabrik; ia memanggil gotong royong. Inilah teknologi yang memperkuat relasi, bukan menggantikannya.

Bandingkan dengan revolusi baru hari ini, yang sering kali memusatkan kendali pada sistem tertutup, algoritma tak kasatmata, dan keputusan yang sulit dipertanggungjawabkan. Ketika teknologi menjauhkan manusia dari prosesnya sendiri, relasi pun retak.

Revolusi Baru dan Masalah Etika

Revolusi teknologi mutakhir datang dengan janji efisiensi dan kecerdasan. Namun pertanyaan etikanya sering menyusul belakangan. Siapa yang mengendalikan? Siapa yang terdampak? Siapa yang bertanggung jawab ketika sesuatu keliru?

Julang Ngapak menjawab pertanyaan ini bahkan sebelum idiajukan. Pengendalinya jelas: komunitas. Dampaknya terasa langsung pada penghuni dan lingkungan sekitar. Tanggung jawabnya kolektif jika atap bocor, semua tahu harus berbuat apa. Tidak ada ruang untuk bersembunyi di balik sistem.

Di sinilah kontrasnya terasa tajam. Revolusi baru kerap mengaburkan relasi sebab-akibat. Keputusan diambil oleh mesin, data diproses jauh dari konteks, dan dampak sosialnya ditanggung oleh mereka yang tidak diajak bicara. Ini bukan soal menolak kemajuan, melainkan menuntut etika yang setara dengan kekuatannya.

Julang Ngapak tidak pernah โ€œupdate versiโ€, tapi bisa bertahan ratusan tahun. Sementara teknologi modern sering perlu pembaruan hanya untuk tetap relevan sebulan lagi. Mungkin yang perlu diperbarui bukan teknologinya, melainkan cara kita memaknainya.

Teknologi yang Mengerti Batas

Julang Ngapak dibangun dengan pengetahuan tentang batas, batas tanah, batas bahan, batas kebutuhan. Strukturnya tidak dirancang untuk menaklukkan musim, melainkan untuk hidup bersama musim. Ketika angin kencang datang, rumah tidak melawan, keberadaanya mengalirkan. Ketika hujan turun deras, atap tidak menahan, hanya mengarahkan.

Batas ini adalah inti etika teknologi Sunda. Inovasi tidak dipahami sebagai kemampuan tanpa batas, melainkan sebagai kecakapan membaca batas dan bertindak bijak di dalamnya. Prinsip ini terasa semakin penting ketika teknologi modern mulai menggoda manusia untuk percaya bahwa semua batas bisa dilampaui.

Di tengah wacana revolusi besar yang mengubah cara berpikir, bekerja, bahkan memaknai diri, Julang Ngapak berdiri sebagai model tandingan: teknologi yang sadar diri. Ia tidak ingin menjadi segalanya. Ia hanya ingin menjadi rumah yang layak, dan itu sudah lebih dari cukup.

Pelajaran bagi Masa Depan

Apa yang bisa dipelajari dari Julang Ngapak untuk masa depan teknologi? Pertama, desain harus berangkat dari konteks lokal, bukan dipaksakan dari logika global yang seragam. Kedua, teknologi harus memperkuat relasi manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan nilai, bukan menggantikannya. Ketiga, setiap inovasi perlu mekanisme tanggung jawab yang jelas dan manusiawi.

Ini bukan romantisasi masa lalu. Ini adalah tawaran arah. Nilai lokal bukan penghambat inovasi, melainkan kompas. Tanpa kompas, kecepatan hanya mempercepat tersesat.

Inovasi yang Tahu Diri

Julang Ngapak mengajarkan bahwa teknologi terbaik adalah yang tahu diri. Tahu kapan melindungi, kapan membuka, kapan berhenti. Di tengah revolusi baru yang sering lupa bertanya โ€œuntuk apaโ€ dan โ€œuntuk siapaโ€, kearifan arsitektur Sunda menawarkan jawaban yang tenang namun tegas.

Masa depan tidak harus memilih antara tradisi dan inovasi. Kita bisa merajut keduanya, asal etika menjadi fondasi, bukan tempelan. Jika teknologi masa depan mau belajar dari Julang Ngapak, mungkin kita tidak hanya membangun sistem yang cerdas, tetapi juga dunia yang layak dihuni.

Karena pada akhirnya, rumah yang baik bukan yang paling canggih, melainkan yang paling mampu menjaga manusia tetap manusia.***



Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.

Editor: Fitri Kurniawati

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

banner 728x90
Optimized by Optimole