Kepengurusan periode ini dipimpin oleh Rudi Rubijaya, alumni angkatan 1989 yang saat ini menjabat sebagai Direktur Landreform di Direktorat Jenderal Penataan Agraria, Kementerian ATR/BPN. Dalam sambutannya, Rudi menegaskan bahwa pengurus KAFP 2024–2028 akan mengedepankan penguatan jaringan alumni, pembaruan basis data, serta program-program konkret yang memberi manfaat nyata bagi alumni, mahasiswa, dan masyarakat.
Aliran Kebatinan Perjalanan: Menyusuri Jiwa Sunda Bersama Mei Kartawinata
Oleh: Tim SinergiNews – 27 April 2025 Di tepi Sungai Cileuleuy, Subang, sebuah wangsit pada…
Teras Sriwijaya, Mimpi Indah di Atas Sungai?
Sebagai lembaga yang konsen pada analisis kebijakan publik, LSM KOMPAS menilai bahwa penataan PKL harus dimulai dari partisipasi yang adil, bukan hanya sekadar pemindahan lokasi secara fisik. Apalagi, belum ada informasi yang jelas mengenai proses konsultasi publik, musyawarah bersama pelaku usaha mikro, atau penghitungan dampak sosial-ekonomi yang akan terjadi. Kota yang beradab adalah kota yang merangkul ruang hidup warganya secara bermartabat.
“Jangan sampai kita menyemai impian di atas luka. Kota yang baik bukan yang cantik dari atas, tapi yang adil dari bawah. Pengingat ini guna mengantisipasi ujaran kepala daerah dianggap sebagai “fatwa” oleh para OPD Cimahi,” tutup Fajar.
Kisruh Dapur Program Makan Bergizi di Kalibata
TAK DIBAYAR- Suasana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, kini mati suri. (Ramadhan L Q/wartakotalive)
Julang Ngapak: Pengetahuan dan Teknologi Tradisional Arsitektur Sunda
Pelestarian rumah Julang Ngapak harus dilakukan secara holistik, mencakup aspek Pengetahuan dan Teknologi Tradisional. Dengan memadukan warisan budaya dengan inovasi modern, rumah adat ini dapat terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Sunda Wiwitan: Menjaga Napas Leluhur Sunda
Oleh: Tim SinergiNews – 23 Maret 2025 Di tengah perbukitan Kuningan dan hutan Kanekes, Sunda…
Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian: Pilar Pemajuan Budaya
Dewan Kebudayaan ataupun Dewan Kesenian menjadi krusial—bukan sebagai penghasil karya seni, tetapi sebagai arsitek kebijakan dan penggerak sistem yang memastikan kebudayaan tetap lestari, berkembang, dan berdaya saing.
Dewan Kebudayaan dan Dewan Kesenian adalah wadah untuk para pemikir, konseptor, dan legislator dalam dunia kebudayaan. Ia tidak mencipta seni, tetapi mencipta kebijakan yang memungkinkan seni berkembang.
Mereka bukan panggung pertunjukan, tetapi tangan yang membangun panggung itu agar para seniman dan komunitas budaya dapat berkarya dengan dukungan yang layak.
Dewan Kebudayaan atau Dewan Kesenian, bukanlah tangan yang menggambar, bukan suara yang menyanyi, bukan kaki yang menari.
Ia adalah roh yang memastikan semua itu dapat terjadi dengan sistem yang matang. Ia adalah penggerak, bukan pencipta—tetapi tanpanya, penciptaan bisa kehilangan arah dan keberlanjutan.
Simfoni Kepentingan: Ketika Kebenaran Mengalun Sumbang
Sebagian pihak menilai tindakannya tergesa-gesa dan kurang kajian hukum. Namun, di tengah carut-marut penegakan hukum yang seringkali tumpul, bukankah tindakan tegas seperti itu justru dibutuhkan?
Nilai Lokal sebagai Penjaga Batas Moral
Penulis: Fajar Budhi Wibowo
Koordinator Umum LSM KOMPAS (Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi) / Analis Kebijakan Publik, Pembangunan Wilayah Urban & Keberagaman / Pusat Studi Budaya dan Sejarah “Sanghyang Hawu” / Pendiri Komunitas EtnoSains Nusantara / Konsultan Utama di EtnoSains / Aktivis Pemerhati Kebudayaan & Pengetahunan Tradisional Nusantara/ Peneliti Independen Kepemimpinan Berbasis Kearifan lokal / Peneliti Utama Wiyata Mandala Satria Praja / Direktur PT. Fajar Besinergi Wiraksara.
Gerakan Kang Dedi Mulyadi dan Pembangkitan Kesadaran Nasionalisme Ekologis Sunda
Penjajahan tak selalu berwujud rantai dan senapan. Kadang ia menyusup dalam pikiran, menjalari kesadaran seperti racun yang perlahan melumpuhkan daya pikir dan keberanian untuk mempertanyakan.
Pelestarian budaya bukan sekadar ritual seremonial, melainkan upaya membangun karakter manusia yang mandiri, berpikir bebas, dan tidak tersandera oleh dogma yang membelenggu.
Bumi bukan hanya hamparan tanah yang bisa dieksploitasi sesuka hati. Ia adalah ibu yang telah memberi kehidupan, yang airnya mengalirkan sejarah, yang pepohonannya memayungi peradaban. Maka ketika tangan-tangan rakus mencabik-cabik alam demi keuntungan sesaat, Kang Dedi tak tinggal diam.
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.

