Komunitas Dayak Segandu: Menyaring Hidup di Padepokan Krimun

Komunitas Uyah Sagandu: Menyaring Hidup di Padepokan Krimun
Komunitas Uyah Sagandu: Menyaring Hidup di Padepokan Krimun

Oleh: Tim SinergiNews – 24 November 2025

Di tepian Pantai Eretan Wetan, Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, berdiri sebuah komunitas unik bernama Dayak Segandu, atau lebih dikenal sebagai Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu (SDHBBSI). Bukan kampung adat seperti Kampung Naga, melainkan perkumpulan spiritual yang mengusung ajaran โ€œSajarah Alam Ngaji Rasa.โ€ Dengan celana hitam-putih dan aksesori kayu-bambu, mereka hidup sederhana, menolak identitas modern seperti KTP, dan mendekatkan diri pada alam. Apa yang membuat komunitas ini begitu istimewa di tengah hiruk-pikuk Pantura?

Jejak Awal di Padepokan Nyi Ratu Kembar

Komunitas Dayak Segandu lahir pada 1970-an, diprakarsai oleh Taโ€™mad alias Eran Takmad Diningrat Gusti Alam, seorang mantan nelayan yang mencari makna hidup melalui perenungan. โ€œSaya bosan dengan aturan duniawi. Kembali ke alam adalah inti kehidupan,โ€ ujar Taโ€™mad, seperti dikutip Kompasiana (2013). Berawal dari perguruan silat di tanah warisan mertuanya, Taโ€™mad mendirikan Padepokan Nyi Ratu Kembar, yang kini menjadi pusat komunitas. Pada 1998, komunitas ini resmi dinamakan SDHBBSI, dengan pengikut mencapai 7.000 orang dari Indramayu, Subang, Cirebon, hingga Jawa Timur.

Nama โ€œDayak Saganduโ€ mencerminkan filosofi mendalam: โ€œSeganduโ€ merujuk pada kesatuan dengan bumi. Istilah โ€œDayakโ€ di sini bukan merujuk suku Kalimantan, melainkan dari kata Jawa โ€œayakโ€ (menyaring), menggambarkan upaya memilah nilai-nilai sejati dalam hidup.

Keunikan Ritual dan Gaya Hidup

Komunitas ini menjalankan ajaran yang menitikberatkan pada kesabaran dan kedekatan dengan alam. Ritual Kumkum, misalnya, menjadi ciri khas: selama empat bulan setiap tahun, anggota berendam di sungai kecil dekat desa dari tengah malam hingga fajar untuk melatih kesabaran. โ€œKumkum mengajarkan kami menahan dingin dan gigitan ikan kecil, demi jiwa yang tenang,โ€ kata Wardi, anggota senior, pada 2015. Ritual ini diikuti dengan Mepe (berjemur) untuk menyempurnakan latihan spiritual.

Gaya berpakaian mereka juga unik: anggota inti, yang disebut Bodhisatvva, hanya mengenakan celana pendek hitam-putih, melambangkan keseimbangan hidup, serta aksesori kayu dan bambu sebagai simbol kedekatan dengan alam. Komunitas ini menjunjung tinggi perempuan, dengan ajaran โ€œngaula ning anak rabiโ€ (mengabdi pada istri dan anak), menempatkan perempuan sebagai sumber kehidupan.

Tantangan di Era Digital

Pada 2025, Uyah Sagandu tetap eksis meski menghadapi tantangan modernisasi. โ€œKami ingin tetap setia pada ajaran leluhur, tapi dunia luar sering salah paham, menyebut kami โ€˜orang gilaโ€™ karena pakaian kami,โ€ ujar Maman, anggota komunitas. Meski begitu, komunitas ini mulai terbuka pada teknologi, seperti saat menerima pelatihan literasi digital dari Kemenkominfo pada 2021, di mana Taโ€™mad memberikan penghargaan kepada Bambang dari Pandu Digital atas dukungan akses internet.

Regenerasi menjadi isu lain. Banyak pemuda tergiur kehidupan modern, mengurangi minat pada ritual seperti Kumkum. Namun, komunitas ini tetap menarik perhatian wisatawan dan peneliti budaya, yang datang untuk mempelajari filosofi โ€œback to natureโ€ mereka.

Refleksi: Pelajaran dari Dayak Sagandu

Fajar Budhi Wibowo, penggiat budaya dari Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu serta Dewan Kebudayaan Kota Cimahi, melihat Dayak Segandu sebagai cerminan kearifan lokal yang unik. โ€œMeski bukan kampung adat, ajaran mereka tentang kesederhanaan dan penghormatan pada alam menginspirasi. Di Cimahi, kami belajar dari mereka untuk mengintegrasikan nilai spiritual dengan wisata edukasi, seperti yang dilakukan di Cireundeu,โ€ ujarnya. Fajar menekankan pentingnya melestarikan komunitas seperti ini sebagai bagian dari keragaman budaya Jawa Barat.

Menyapa Uyah Sagandu

Dayak Segandu bukan sekadar komunitas, melainkan cermin jiwa yang merindu harmoni dengan alam dan kesederhanaan. Di Padepokan Nyi Ratu Kembar, mereka mengajak kita menyaring esensi hidup di tengah dunia yang kian riuh. Siap menyelami filosofi mereka di tepi Pantura?


Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan wawancara dengan Taโ€™mad (2013, Kompasiana), Wardi (2015, Merdeka.com), serta informasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Sinerginews.co.id berkomitmen mempromosikan keragaman budaya Indonesia melalui liputan komunitas lokal.

Untuk lebih lengkapnya, silakan hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

Optimized by Optimole