Bandung, 18 Mei 2026 – Puluhan peserta dari kalangan alumni dan siswa antusias mengikuti kegiatan “Revitalisasi dan Pewarisan Pengetahuan Tradisional Sunda kepada Generasi Muda melalui Pelatihan Pengolahan Resep Rempah secara Inovatif”. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 17 Mei 2026 dari pukul 10.00 s.d. 16.00 WIB di SMKN 4 Bandung ini merupakan wujud konkret kolaborasi antara dunia pendidikan, kearifan lokal, dan kewirausahaan budaya.
Didukung oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Jawa Barat Kementerian Kebudayaan RI, serta digerakkan oleh EtnoSains Nusantara, IKA SMKN 4 Bandung, dan OSIS SMKN 4 Bandung, pelatihan ini bertujuan mengangkat kembali kejayaan rempah Nusantara yang mulai tergerus gaya hidup modern. Fokus utama kegiatan adalah pengolahan inovatif rempah Sunda menjadi produk teabag (rempah celup) yang praktis, kekinian, dan bernilai ekonomi.

Kepala SMKN 4 Bandung, Yudi Kartiwa, S.Pd., S.ST., M.Pd. , dalam sambutannya menyatakan bahwa pelatihan ini sangat relevan dengan kurikulum SMK yang mendorong kewirausahaan. “Kegiatan ini bagus sekali. SMK itu setelah lulus memang diarahkan untuk bekerja, berwirausaha, dan terakhir melanjutkan kuliah. Tidak ada pelatihan yang tidak bermanfaat, termasuk pelatihan rempah ini,” tegasnya.
Yudi menambahkan, bahwa lulusan SMK masih rendah untuk yang menggeluti wirausaha, kegiatan ini sangat membantu dalam melakukan pembekalan untuk keahlian di masa yang akan datang. Pihaknya menekankan bahwa ia akan selalu mendukung kegiatan-kegiatan positif Ikatan Keluarga Alumni SMKN 4 Bandung melalui fasilitasi yang ada di sekolah.

Selama satu hari penuh, peserta tidak hanya menerima materi etnopedagogi dan etnofarmakologi, tetapi juga langsung mempraktikkan pengolahan jenis-jenis rempah khas Sunda seperti jahe, kencur, temulawak, hingga rempah lainnya menjadi produk herbal siap jual. Setiap peserta berhasil menciptakan minimal satu resep racikan tea bag inovatif.
Ketua pelaksana kegiatan, Dadan Kurnia, menjelaskan bahwa program pewarisan pengetahuan tradisional saat ini nyaris tidak menjadi prioritas di banyak daerah. “Padahal tanpa pewarisan sistematis, ramuan bandrek asli, pengetahuan tentang kencur, atau cara mengolah jahe merah bisa punah dalam satu generasi. Kegiatan ini adalah langkah kecil tapi strategis,” ujarnya.
Singkron dengan misi yang jelas dari Ketua IKA SMKN 4 Bandung, Fajar Budhi Wibowo, yang menekankan pentingnya penerapan etnopedagogi di lingkungan sekolah dan keluarga. “Kebudayaan sunda sudah semestinya hadir di lingkungan sekolah dan keluarga secara konsisten, kegiatan ini adalah bentuk nyata kontribusi alumni yang manfaatnya dapat dirasakan langsung, serta memiliki dampak positif bagi kita semua dalam membangun pribadi yang berbudaya, ini sudah masuk pada program IKA,” tandasnya.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa objek pemajuan kebudayaan (OPK) Pengetahuan Tradisional, sebagaimana diamanatkan UU No. 5 Tahun 2017, dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan vokasi dan inovasi pasar.***
Jurnalis: Fitri Kurniawati
































