Awal Mula Pendirian dan Fondasi Teknik (1950-an – 1969)
Pasca-kemerdekaan, Indonesia membutuhkan banyak tenaga ahli untuk membangun negeri ini. Bandung, dengan ITB dan institusi pendidikan lainnya, menjadi pusatnya. Pada 1951, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan keluarkan Surat Putusan No. 3835/B.II/1951 tanggal 30 Agustus, yang buka Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri. STM ini lahir dari Sekolah Teknik (ST) pada masa itu, awalnya STM memiliki empat jurusan utama: Teknik Mesin, Teknik Bangunan, Teknik Listrik, dan Teknik Kimia.
Menurut Fajar, empat jurusan itu menjadi akar bagi STM-STM Negeri di Bandung kala itu, STM Negeri 1 (Mesin Industri), STM Negeri 4 (Otomotif), STM Negeri 3 (Bangunan), STM Kimia, dan STM Negeri 2 (Listrik dan Elektronika).
Pada masa itu, menurut sejarah yang ada STM Negeri 2 Bandung resmi berdiri pada 5 Februari 1962 di Jalan Ciliwung No. 4 Bandung. Sekolah ini fokus pada Teknik Listrik dan Elektronika, karena kebutuhan industri listrik dan dan dunia ekeltronika sedang naik.
Tahun 1965, STMN 2 Bandung pindah ke Jalan Kelenteng untuk mengakomodasi siswa yang bertambah. Di sana, jurusan dibedah jadi Elektronika Arus Lemah (seperti komunikasi dan rangkaian) dan Listrik Arus Kuat (instalasi dan distribusi daya). Ini sesuaikan dengan tuntutan pasar kerja. Salah satunya semisal PLN, pada saat ini membutuhkan teknisi-teknisi handal untuk mengurusi jaringan listrik nasional, dan juga Perumtel pada jalur telekomunikasi.
Empat tahun kemudian, 1969, sekolah pindah lagi ke Jalan Kliningan No. 6 Bandung, lokasi yang dipakai sampai sekarang. Perpindahan ini, STMN 2 terus berkembang, bahkan memunculkan jurusan lebih spesifik: Listrik Instalasi (pemasangan jaringan gedung), Listrik Pemakaian (distribusi dan penggunaan daya), dan Elektronika (rangkaian, digitalil dan alat ukur).
“Kliningan jadi rumah kedua untuk saya pada saat bersekolah, terkadang saya menginap di sekolah karena ada kegiatan-kegiatan,” ingat Fajar sambil berkelakar.
“Di sana saya atau kami mempelajari berbagai ilmu, baik teknik maupun non teknik, dari teknik listrik dasar, teknik elektonika dasar, teknik digital, komputer, gambar teknik, hingga ilmu sosial seperti sejarah dan pengelolaan usaha. Semua dilakukan sambil belajar membangun disiplin kerja.”
Fajar meneruskan ceritanya bahwa pada era awal-awal itu, menurut persepsi dan asumsinya sekolah-sekolah teknik terus membangun fondasi yang kuat. Ia mendengar cerita juga bahwa guru-gurunya banyak yang hebat dan menguasai hal-hal praktis, saat itu siswa langsung praktik di proyek-proyek kecil.
Kisah tersebut bukan hanya bualan, fakta membuktikan bahwa pada masa tersebut, lulusan-lulusannya cepat terserap di perusahaan-perusahaan negara, seperti IPTN untuk peralatan elektronik pesawat, atau PLN untuk instalasi listrik dan TVRI dan lainnya. Ini membuktikan STM Negeri 2 bukan cuma sekolah, tapi dapat dikatakan sebagai mitra pembangunan.
