Indeks

Transformasi SMKN 4 Bandung dan Almamater Kebanggaan Para Alumni

Tiada Masa Paling Indah, Masa-Masa dI Sekolah

Transformasi SMKN 4 Bandung dan Almamater Kebanggaan Para Alumni.
Transformasi SMKN 4 Bandung dan Almamater Kebanggaan Para Alumni.

Konsolidasi di Tengah Perubahan Zaman (1970-an – 1980-an)

Memasuki era 1970-an, menurut cerita dari berbagai pihak yang diterima oleh Fajar, jumlah siswa STM di Bandung meledak, hal ini mendorong pemerintah untuk mengatur ulang struktur dan regulasi. Tepatnya pada 23 Januari 1976, keluar SK berdiri sendiri untuk enam STM Negeri di Kotamadya Bandung, termasuk STM Negeri 2 yang tetap fokus listrik dan elektronika. Sekitar waktu itu, terjadi juga perpindahan lokasi sekolah. STM Negeri 1 dan 3 pindah ke gedung lama Sekolah Teknik Negeri 1 (ST), STM Negeri 4 ke Ciliwung, dan STM Negeri 2 ke Kliningan, bergabung dengan bekas ST Negeri II dibubarkan.

Terkhusus untuk STMN 2 Bandung, kurikulum diperkuat dengan teori dan praktik yang seimbang. Jurusan Elektronika mulai menjadi salah satu yang difavoritkan, karena teknologi komunikasi sudah mulai berkembang, sementara jurusan listrik terus dimatangkan untuk menyiapkan SDM bagi proyek infrastruktur besar.

“Zaman itu yang saya dengar, bisa masuk menjadi siswa STM, khususnya STM Negeri 2 itu suatu prestise, kebanggaan, terlihat dari antusiasme para alumni di group-group whatsapp yang saya ikuti” cerita Fajar tentang para seniornya. “Banyak lulusannya langsung mendapatkan pekerja di PLN, Len Industri atau Pindad, karena skill mereka langsung bisa dipakai.”

Menurut Fajar, dalam Sejarah perkembangan sekolah teknik di Bandung, pada tahun 1975, semua praktik teknik siswa STM Bandung mulai terpusatkan di Pusat Latihan Pendidikan Teknik (PLPT) di Jalan Cikutra Kota Bandung.

Tempat ini menjadi seperti kamp pelatihan industri, siswa sekolah teknik belajar mengoperasikan alat ukur, membuat rangkaian, menggunakan solder, dan menguji arus dengan osciloskope dan alat-alat presisi tinggi lannya. Pada 1978, PLPT ganti nama jadi Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT), dan jadi “laboratorium hidup” buat ribuan siswa. Di BLPT, siswa STM Negeri 2 dan STM-STM lain, dituntun untuk belajar bertanggung jawab nyata, satu kesalahan saja, bisa merusak alat yang harganya relative mahal pada saat itu, bisa dikatakan belajar di BLPT mirip tantangan di dunia kerja nyata.

Hubungan dengan industri ditingkatkan melalui Praktik Kerja Nyata (PKN) atau Praktek Kerja Lapangan (PKL), di mana siswa diwajibkan magang di perusahaan. Ini menjadikan lulusan STMN 2 khususnya siap pakai. Di akhir 1980 atau awal 1990-an, sekolah sudah punya tiga jurusan utama yang stabil, dan reputasinya sebagai pencetak teknisi unggulan makin kuat. Lulusan mulai naik ke posisi manajerial di BUMN, dan beberapa melanjutkan kuliah, ada yang menjadi insinyur atau guru maupun dosen.

Cerita ini didapat oleh Fajar saat ia silaturami dengan berbagai angkatan seniornya, salah satunya dengan angkatan lulus 1979, yang ternyata diangkatan ini terbilang unik, sekolah di STMN 2 pada masa itu 3,5 tahun an, karena ada transisi kurikulum.

Melayani Seluruh Indonesia, Info Lengkap hubungi kami

Melayani Seluruh Indonesia, info lengkap hubungi kami

Optimized by Optimole
Exit mobile version