Bandung, 18 Mei 2026 – Di tengah gempuran budaya global dan digital, pendekatan etnopedagogi menjadi semakin mendesak untuk diterapkan. Hal ini ditegaskan oleh Fajar Budhi Wibowo, M.Si., M.Hum. , Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMKN 4 Bandung juga pendiri EtnoSains Nusantara, saat menjadi narasumber dalam pelatihan rempah di SMKN 4 Bandung.
Dalam kegiatan “Revitalisasi dan Pewarisan Pengetahuan Tradisional Sunda kepada Generasi Muda melalui Pelatihan Pengolahan Resep Rempah secara Inovatif” sukses digelar pada Minggu, 17 Mei 2026, dari pukul 10.00 s.d. 16.00 WIB di SMKN 4 Bandung.
Materinya yang berjudul “Etnopedagogi di Lingkungan Sekolah dan Keluarga”, Fajar menjelaskan bahwa etnopedagogi bukan metode mengajar semata, melainkan penyadaran budaya yang membawa kearifan lokal ke dalam sendi-sendi kehidupan. “Etnopedagogi adalah pembelajaran berbasis nilai, tradisi, dan kearifan lokal. Tujuannya bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter dan cinta budaya,” ujarnya.
Fajar menyoroti fakta dari hasil penelitiannya di bidang bahasa. “Sekiranya sekolah-sekolah di Jawa Barat mau menerapkan etnopedagogi, mengapa tidak sesekali menggunakan bahasa Sunda di pelajaran matematika atau teknik?”
Lebih lanjut, Fajar menggugat kebiasaan di lingkungan keluarga. “Saat ini, bahasa pertama yang diperkenalkan kepada anak-anak di Jawa Barat rata-rata adalah bahasa Indonesia. Alasan ‘takut kasar’ jika pakai bahasa Sunda sering dijadikan pembelaan. Padahal justru itulah yang membuat bahasa Sunda kian hari kian terkikis,” tegasnya.
Pengenalan, Penerapan dan Penyadaran
Merujuk pada berbagai referensi ilmiah, etnopedagogi memiliki korelasi erat dengan konsep culturally responsive teaching dan place-based education. Dalam konteks Sunda, etnopedagogi tidak hanya menyentuh bahasa, tetapi juga sistem pengetahuan seperti pendidikan, pangobatan tradisional, dan kearifan pangan. Sebuah studi dari Jurnal Etnopedagogi bahkan membuktikan bahwa integrasi rempah lokal dalam proyek P5 Kurikulum Merdeka mampu meningkatkan keterlibatan siswa hingga 73%.
Menurut Fajar, ada tiga level penerapan etnopedagogi di sekolah dan keluarga, yaitu level Pengetahuan dengan cara mengenalkan, lalu level penerapan, dengan cara menjadikan anak-anak sebagai pelaku dan aktor utama, dan yang terakhir adalah level penyadaran, menanamkan nilai guyub dan kebersamaan, hormat pada alam, serta kebanggaan pada identitas Sunda.
“Budaya bukan hanya peninggalan masa lalu. Ini adalah napas kehidupan yang membentuk cara kita berpikir dan memandang masa depan. Jika hari ini kita tidak memperkenalkan semisal nama-nama berkarakter Sunda, bahasa Sunda, pakaian, dan pengetahuan tradisional salah satunya adalah rempah kepada anak-anak kita, maka kita sedang kehilangan arah,” pungkas Fajar di akhir sesi.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa etnopedagogi tidak harus rumit. Cukup mulai dari dapur keluarga dan ruang kelas yang ramah budaya, lalu dikemas secara inovatif. Karena masa depan yang kuat bukan dibangun dengan meninggalkan akar budaya, melainkan dengan menghidupkannya kembali dalam bentuk yang relevan bagi zaman.***
Jurnalis: Fitri Kurniawati
