Dalam kehidupan kita sehari hari terpampang suatu fenomena, di satu sisi terbentang warisan leluhur: kitab-kitab tua, pahatan batu, alat musik tradisi, cerita yang bernilai sejarah yang menggambarkan tokoh dan peristiwa masa lalu. Di sisi lain, menjulang bangunan modern, bayangan kota yang hingar bingar dengan penanda perlengkapan kehidupan sehari hari yang berteknologi canggih yang menjadi simbol zaman.
Hari Kebaya Nasional 2025, Komunitas Perempuan Berkebaya Gelar Lomba Berkebaya
“Kebaya bukan semata pakaian. Ia adalah pernyataan budaya,” ujar Lia Nathalia, Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, dengan nada penuh keyakinan. “Di balik setiap helai kebaya, tersimpan kisah panjang perempuan Nusantara. Ia bukan sekadar simbol feminitas, tetapi juga lambang keteguhan, ketulusan, dan kecintaan pada akar budaya kita. Karena itu, dalam lomba ini, kami tidak mencari siapa yang paling cantik saat berkebaya. Justru kami ingin melihat siapa yang mampu memaknai kebaya sebagai cermin jati dirinya.”
“Dalam acara ini,” terang Fitri Kurniawati dengan nada reflektif, “saya melihat bahwa kebaya bukan sekadar lembaran kain yang dibentuk indah di tubuh perempuan. Ini juga bukan perkara siapa yang mengenakan kebaya paling mahal, atau siapa yang menghias dirinya dengan asesoris paling gemerlap. Lebih dari itu, lomba ini menjadi ruang bagi setiap perempuan untuk menyelami kembali jati dirinya, melalui pilihan kain yang ia kenakan, melalui lipatan sanggul yang ia tata, hingga pada makna yang ia sematkan di balik kebaya yang ia pilih. Intinya, ini adalah tentang memahami siapa diri kita dalam bingkai budaya.”
17 Oktober Disahkan Jadi Hari Kebudayaan Nasional Indonesia
Pemerintah tetapkan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional. Momentum ini sarat makna sejarah dan kontroversi, diharapkan memperkuat jati diri bangsa Indonesia.
“Hulu Jaga Hilir”: Gerakan LSM KOMPAS Bangun Kepedulian Lingkungan Demi Atasi Banjir Jawa Barat
Kegiatan ini tidak lepas dari dukungan dan kontribusi sejumlah pihak yang telah berperan sebagai donatur maupun mitra kolaborasi, antara lain PT. Fajar Bersinergi Wiraksara, PT. Dayamitra Telekomunikasi, Perumda Tirtawening, Bank BJB Syariah, PT. Pesona Jaya Abadi, A2 Grafika Advertising, Pemerintah Kota Cimahi, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Kabupaten Bogor, Bank BJB.
PEMKOT CIMAHI BANGUN RUMAH SINGGAH UNTUK PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
SinergiNews – Cimahi. Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Sosial resmi memulai pembangunan rumah singgah sebagai…
Kota cimahi, dikunjungi Delegasi Pakistan Tinjau Program Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas)
SinergiNews – Cimahi. Delegasi dari negara Pakistan telah mengunjungi Kota Cimahi, dengan tujuan untuk meninjau langsung…
WAKIL WALIKOTA CIMAHI HADIR DI HUT HARI KOPERASI NASIONAL KE – 78 KOTA CIMAHI
SinergiNews – Cimahi. Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-78 Tingkat Kota Cimahi berlangsung semarak dan meriah…
VERIFIKASI DAN VALIDASI DATA SURVEI PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN CIPAGERAN
SinergiNews – Cimahi. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Cimahi terus memperkuat perannya sebagai wali…
Proyek Drainase Jl. Encep Kartawiria Amburadul, LSM KOMPAS Tuntut Dinas PUPR Bertindak Tegas
“Ini bukan lagi soal kecerobohan, tapi kelalaian yang membahayakan nyawa pengguna jalan. Material berserakan tanpa pengaman, jalan licin, dan tidak ada rambu keselamatan. Apakah Dinas PUPR tidak punya pengawasan? Kami menuntut klarifikasi segera, siapa penyedia jasa ini dan mengapa proyek dibiarkan berjalan seperti pasar tanpa aturan?” ujar Dadan dengan nada keras.
PERAHU YANG DILARANG KEMBALI – BAGIAN III (Tamat)
Sangkuriang menatap bayang-bayang itu, dadanya sesak oleh ingatan yang menyeruak: pelukan ibunya di bawah pohon, lolongan Si Tumang di malam yang dingin, dan darah yang ia tumpahkan tanpa tahu itu adalah ayahnya.
Dayang Sumbi turun dari rumah cahayanya, langkahnya ringan seperti kabut, namun setiap tapaknya mengguncang bumi seperti gempa purba. Ia berdiri di hadapan Sangkuriang, memegang sehelai benang fajar yang berkilau seperti air mata bintang.
“Anaking jimat awaking,” (Anaku belahan jiwaku) katanya.
Suaranya lembut namun menghancurkan seperti ombak yang memecah batu karang.
“Asal anjeun lain ti perahu, lain ti pendetan, tapi ti rangkai wanci anu kuring tinung jeung kasih Si Tumang. Anjeun anak kuring, anak kahyangan, tapi dosa anjeun ka Bapa anjeun ngahariring di leutak ieu.” (Anakku, asalmu bukan di perahu, bukan di bendungan, tapi di jalinan waktu yang kutenun bersama kasih Si Tumang. Kau anakku, anak kahyangan, tapi dosamu pada ayahmu bernyanyi di lumpur ini.)
